Tampilkan postingan dengan label Mei 2011. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mei 2011. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Mei 2011

Menakar dan Mengukur

Baca: Lukas 6:37-38
Ayat Mas: Lukas 6:38
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 7-9

Seorang tua sedang merenung. “Dulu saya lahir dari keluarga miskin. Ketika melihat orang kaya, saya bertanya-tanya mengapa mereka egois, tidak mau menolong orang miskin memperbaiki masa depan, bahkan tak jarang malah memandang rendah? Namun, ketika kemudian saya menjadi kaya setelah bekerja keras, saya merasa orang miskin itu malas, tak mau berinisiatif, maunya ditolong, iri, dan tak pernah berterima kasih?” Pak tua itu menggeleng-geleng menyadari kontradiksi di hati dan perasaannya. Mengapa begini?

Tak jarang dalam hidup ini, kita memiliki standar ganda dalam ”menakar dan mengukur”. Kita kerap menilai orang lain dari ”takaran” atau pandangan subjektif kita, dan tak mampu memahami orang lain dari sudut pandang orang itu. Kita kerap menuntut orang lain bersikap dan berbuat seperti yang kita mau, padahal kita sendiri belum tentu melakukan yang sebaliknya. Ketika berbuat salah, kita tak ingin dihakimi. Sebaliknya, ingin dimaafkan dan dibantu keluar dari kesalahan. Ketika membeli, kita menginginkan barang yang berkualitas dengan harga bagus, dan akan sangat marah jika dibohongi. Ketika susah, kita ingin orang lain menolong.

Apabila kita rindu tidak dihakimi, biarlah kita jangan menghakimi. Apabila kita rindu dimaafkan ketika bersalah, biarlah kita jangan menghukum, tetapi mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Sebab ukuran yang kita pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepada kita. Perhatikan ayat 38—”berilah”: pengampunan, maaf, kesabaran, kebaikan, pengertian, dukungan, kekuatan, kesempatan, pertolongan. ”... dan kamu akan diberi,” demikian sabda Kristus. Mau bukti? Coba terapkan janji Tuhan ini.

JALANI HIDUP SEBAGAIMANA KITA HARAP ORANG LAIN JALANI

MAKA ITU PULALAH YANG AKAN KITA DAPATI

Sumber: [usanto, S.Th.]--[www.renunganharian.net]

Tuhan Sudah Tahu

Baca: Matius 4:1-11
Ayat Mas: Matius 4:7
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 4-6

Seorang pembuat boneka kayu yang terkenal membuat boneka kayu yang sangat bagus untuk anak perempuannya. Suatu saat, boneka itu terjatuh hingga beberapa bagiannya terlepas. Sambil menangis, si anak membawa boneka itu kepada ayahnya. “Tinggalkan saja bonekamu. Ayah akan memperbaiki setiap bagian satu per satu.” Namun, anaknya tidak sabar, “Tidak, Ayah. Itu terlalu lama. Ayah hanya perlu menaruh lem di sini, memaku bagian ini, dan menyambung yang ini”. Si pembuat boneka meminta anaknya bersabar dan memercayakan boneka rusak itu kepadanya. Sayang, si anak keras kepala dan pergi membawa boneka rusaknya.

Dalam kisah pencobaan di padang gurun, Iblis berusaha mencobai Yesus dengan membawa-Nya ke beberapa tempat dan memberitahukan apa yang harus dilakukan Yesus. Semua yang diberitahukan Iblis memang tampak masuk akal, tetapi di balik itu semua Iblis ingin Yesus menyembahnya. Namun, Yesus adalah Tuhan. Dia tidak perlu diberi tahu apa yang harus Dia lakukan dan apa yang tidak. Sebab, Dia jauh lebih tahu alasan di balik setiap permintaan kita. Dia tahu kapan dan bagaimana seharusnya menjawab setiap permintaan.

Mungkin kita kerap berlaku seperti anak perempuan si pembuat boneka. Kita mendikte Tuhan, apa yang harus Tuhan lakukan untuk mengatasi masalah kita. Kita tidak mau memercayakan masalah kita pada cara-Nya. Padahal, sebagaimana pembuat boneka lebih tahu bagaimana memperbaiki boneka buatannya, Tuhan pasti lebih tahu apa yang kita butuhkan untuk keluar dari masalah. Berhentilah meniru kebiasaan iblis yang berusaha mendikte apa yang harus Tuhan lakukan. Dia sudah tahu.

BERHENTILAH MENDIKTE TUHAN

TUHAN PALING TAHU APA YANG KITA PERLUKAN

Sumber: [G. Sicillia Leiwakabessy]--[www.renunganharian.net]

Bukan Sekadar Kata

Baca: Mazmur 45
Ayat Mas: Mazmur 45:2
Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 31-33; Matius 22:1-22

Dalam pengantar buku Menjadi Penulis, Andar Ismail menegaskan pentingnya isi tulisan. Ia mengatakan, “Menulis bukanlah sekadar merangkaikan kata, melainkan menuliskan hikmat yang mencerahkan dan menumbuhkan pembaca. Sepandai-pandainya kita menuangkan, yang lebih menentukan adalah apa yang dituangkan. Apa gunanya menuang sebuah botol jika isinya adalah air keruh? Atau, apa yang mau dituang dari sebuah botol apabila botol itu masih kosong?”

Pengakuan pemazmur menunjukkan proses serupa. Mazmur-mazmurnya tertuang dari perkara-perkara yang memenuhi hatinya. Ungkapan “kata-kata indah”, menurut konkordansi Alkitab, mengacu pada perkara-perkara yang baik, mulia, luhur, dan benar. Ketika hal itu meluap-luap memenuhi hatinya, ia pun tergerak untuk menggubah sajak. Ia menulis tentang sosok yang sungguh-sungguh luhur dan mulia: nubuatan tentang Raja yang akan datang, Tuhan Yesus Kristus, dan jemaat-Nya yang berkemenangan.

Kehidupan kita, seperti halnya tulisan yang jujur, menyatakan apa yang ada di dalam hati kita. Kita akan menjalani kehidupan yang baik jika perbendaharaan hati kita meluap-luap dengan perkara-perkara yang baik. Paulus menasihatkan agar kita memenuhi hati dan pikiran kita dengan “semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji” (Filipi 4:8). Hal itu akan menggerakkan kita untuk menuliskan sajak kehidupan yang indah, kehidupan yang mengungkapkan kasih dan ketaatan kita kepada Raja segala raja.

KEINDAHAN HATI AKAN MEMANCAR DALAM KEINDAHAN HIDUP

Sumber: [Arie Saptaji]--[www.renunganharian.net]

Tekun Menahan Tekanan

Baca: Yakobus 5:7-11
Ayat Mas: Yakobus 5:11
Bacaan Alkitab Setahun: Ester 8-10

Tekun itu banyak gunanya. Kita kerap mendengar nasihat orangtua: ”Tekunlah belajar ...” atau ”Tekunlah dalam mengerjakan sesuatu ....” Dengan ketekunan, hasil dalam pekerjaan dan belajar bisa dicapai dengan baik. Dan, tekun harus dimulai dan dilatih dari sesuatu yang kecil.

Ketekunan juga berguna dalam hidup sebagai orang percaya, sebab ada banyak tekanan yang muncul sebagai konsekuensi dari iman yang kita miliki. Yakobus bahkan memberi anjuran agar umat Tuhan tidak hanya tekun bekerja, tetapi juga tekun dalam menderita. Ini bukan berarti umat diminta memilih jalan penderitaan dan karenanya mencari penderitaan. Bukan! Maksudnya, agar tatkala menghadapi penderitaan, umat Tuhan tidak menjadi patah semangat. Bahkan, penderitaan yang dihadapi dan disikapi secara kristiani akan menghasilkan kesaksian yang menguatkan banyak orang. Orang akan melihat dan belajar bagaimana kita menghadapi, berjuang, jatuh bangun, dan menang atas penderitaan. Sudah banyak tokoh iman yang membuktikan bahwa ketekunan dalam menghadapi penderitaan setidaknya menghasilkan dua hal: kehidupan rohani yang semakin tangguh dan keteladanan yang memberkati hidup orang lain—khususnya yang menyaksikan pergulatan kita dengan penderitaan itu (ayat 11).

Apakah Anda sedang menderita—mungkin dalam karier, atau studi, atau keluarga—demi iman Anda? Jika ya, ingatlah bahwa Anda sedang berada di jalan yang sama dengan para nabi yang ”telah berbicara demi nama Tuhan” (ayat 10). Ketekunan Anda dalam mengelola penderitaan akan menjadi berkat bagi diri sendiri dan sesama.

HIDUP KITA YANG BERTEKUN

ADALAH ALAT YANG DAHSYAT DI TANGAN ALLAH

Sumber: [Daniel K. Listijabudi]--[www.renunganharian.net]

Baana dan Rekhab

Baca: 2 Samuel 4
Ayat Mas: Amsal 2:20
Bacaan Alkitab Setahun: Ester 5-7

Baana dan Rekhab adalah dua kepala gerombolan yang berpihak atau bekerja kepada Isyboset, anak dari Raja Saul. Kepala gerombolan adalah seorang perwira yang memimpin sebuah pasukan. Sebagai pemimpin pasukan, tentunya mereka adalah orang-orang yang terikat dengan sumpah untuk terus setia sebagai prajurit Saul. Namun, tidak demikian dengan Baana dan Rekhab. Ketika mereka melihat posisi keluarga Saul semakin melemah dengan tewasnya sang jenderal, yaitu Abner, mereka menilai bahwa posisi untuk tetap setia kepada keluarga Saul, tidaklah menguntungkan. Itu sebabnya mereka mulai mempertimbangkan untuk beralih menjadi pengikut Daud.

Dengan konsep berpikir untung dan rugi, maka mulailah Baana dan Rekhab merancang sebuah rencana untuk membunuh Isyboset dengan maksud agar mereka dianggap berjasa oleh Daud. Akan tetapi, apa yang mereka pikirkan ternyata meleset. Apa yang tadinya mereka anggap sebagai keuntungan, ternyata menghasilkan celaka bagi mereka. Daud marah dan menganggap mereka berdua melakukan kesalahan besar dengan membunuh Isyboset sehingga akhirnya mereka berdua dibunuh karena apa yang telah mereka perbuat.

Melihat sebuah peluang dalam kehidupan dengan pola pikir untung dan rugi, tidak sepenuhnya salah. Akan tetapi, apabila tidak berhati-hati, kita bisa terseret pada pemikiran pragmatis ekstrem—dengan menghalalkan segala cara demi mendapat keuntungan. Oleh sebab itu, Amsal menasihatkan agar kita tetap menempuh jalan orang baik dan jalan yang benar. Supaya kita tidak terjatuh kepada dosa hanya karena mengejar keuntungan.

KESETIAAN AKAN MENDATANGKAN PENGABDIAN

BAHKAN DALAM SEGALA KEADAAN

Sumber: [Riand Yovindra]--[www.renunganharian.net]

Ezra

Baca: Ezra 7:1-10
Ayat Mas: Ezra 7:10
Bacaan Alkitab Setahun: Ester 2-4

Tujuh puluh tahun setelah rombongan pertama bangsa Israel kembali dari pembuangan Babel ke Yerusalem, Ezra turut kembali dari pembuangan. Ezra adalah seorang dari garis keturunan Harun, yang telah dididik untuk menjadi imam. Ia adalah seorang yang banyak belajar—dari tulisan-tulisan orang bijak Media-Persia, tulisan-tulisan para nabi dan raja, dan teristimewa dari Taurat Tuhan yang diberikan melalui Musa. Dari semua itu, ia berusaha memahami, mengapa Tuhan sampai menghukum bangsanya dengan pembuangan. Dan, ketika ia sudah mengetahui kehendak Tuhan, serta apa yang berkenan kepada-Nya, ia bertekad mengajarkannya kepada kaum sebangsanya, agar mereka bertobat (ayat 10).

Tuhan pun membukakan jalannya untuk kembali, yakni melalui perkenan raja Artahsasta (ayat 6). Tuhan melindunginya dalam perjalanan berbulan-bulan yang harus ia tempuh (ayat 9). Dan, sesampai di Yerusalem, Ezra sungguh memberi dirinya untuk menyampaikan kebenaran; ia berdoa memohonkan ampun atas dosa-dosa umat (Ezra 9). Ia juga menegur umat dan meminta mereka kembali pada jalan Tuhan—khususnya dalam hal perkawinan campuran yang mereka lakukan dengan wanita-wanita dari bangsa asing (Ezra 10).

Mempelajari dan memahami firman Tuhan, itu satu hal. Namun, membagikannya agar orang lain juga mengerti dan turut melakukan firman Tuhan, adalah hal lain. Ezra tak hanya ingin menjadi ahli Taurat. Ia tak menyimpan pengetahuannya untuk kepentingan sendiri. Ia membagikan pengertian yang ia peroleh kepada umat Tuhan, karena ia rindu mereka kembali hidup dalam rancangan Tuhan. Maukah kita mengikuti jejaknya?

PELAJARI FIRMAN TUHAN AGAR HIDUP KITA BERTUMBUH

TERUSKAN KEPADA SESAMA AGAR MEREKA TURUT BERTUMBUH

Sumber: [Agustina Wijayani]--[www.renunganharian.net]

Malaikat

Baca: Mazmur 91:9-16
Ayat Mas: Mazmur 34:8
Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 12-13; Ester 1

Beberapa tahun silam, ketika saya dan istri membawa putra kami berobat, pencuri masuk ke rumah kami. Laptop saya dicuri. Namun, saya tidak begitu sedih—bahkan saya bersyukur kepada Tuhan. Sebab hanya laptop yang dicuri, sementara putri kami—yang saat itu ada di rumah bersama pengasuhnya—tidak mengalami kejadian buruk apa pun. Padahal si pencuri sempat ke kamarnya, sebab terlihat sidik jari si pencuri di tirai jendela. Puji Tuhan, saat itu putri kami sedang tidak di kamar. Tak seperti biasa, ia terus bermain di lantai bawah sampai kami pulang. Kala si pencuri beroperasi, seperti ada yang “menahannya” untuk tidak ke loteng dan masuk ke kamar.

Mazmur 91 adalah sebuah madah kepercayaan, tentang perlindungan Tuhan bagi orang yang “hatinya melekat kepada-Ku” (ayat 14). Dan, perlindungan itu dipercayakan Tuhan kepada para utusan yang dinamai: malaikat (ayat 11). Malaikatlah yang melindungi Sadrakh, Mesakh, dan Abednego di perapian yang menyala-nyala (Daniel 3:23-25). Para malaikatlah yang membentengi Elisa di Dotan (2 Raja-raja 6:13-17). Malaikatlah yang menjumpai Yosua menjelang penaklukan atas Yerikho (Yosua 5:13-15). Malaikat pulalah yang membebaskan Petrus dari penjara (Kisah Para Rasul 12:7-10).

Kita semua bertanggung jawab menjaga diri sendiri. Akan tetapi, ada kalanya kita tak mampu melakukannya sendiri. Pada saat seperti itu, tak jarang Tuhan menghadirkan ”penjaga” yang diutus untuk menolong kita. Setelah saat kritis lewat, ia pergi. Kehidupan berlanjut. Kita pun kembali bertanggung jawab menjaga diri. Anda punya pengalaman serupa kisah saya di atas? Saya yakin, “penjaga” itu adalah malaikat-Nya!

PADA SITUASI BIASA KITA DIBERI KITA HIKMAT UNTUK MENJAGA DIRI

PADA KONDISI LUAR BIASA TAK JARANG DIA UTUS MALAIKAT-NYA

Sumber: [Pipi Agus Dhali]--[www.renunganharian.net]

Ayah Terhebat

Baca: Ulangan 7:1-11
Ayat Mas: Ulangan 7:9
Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 9-11

Dick dan Rick Hoyt adalah ayah dan anak yang mengagumkan. Rick Hoyt adalah penyandang cacat cerebral palsy—tak dapat berbicara atau berjalan. Namun ketika ia berkeinginan untuk ikut triatlon, Dick—ayahnya—rela berlari mendorong kereta beserta Rick di atasnya, berenang melintasi samudra sambil menarik perahu dengan Rick di dalamnya, dan mengayuh sepeda tandem dengan Rick di bagian depan. Dick susah-payah melakukannya bukan untuk menjadi pemenang, melainkan untuk menunjukkan cintanya yang besar kepada putranya. Walau Rick memiliki keterbatasan, sang ayah tak membatasi kasihnya.

Dalam bacaan hari ini kita juga diingatkan akan kasih Allah yang besar kepada bangsa Israel, bangsa yang dipilih Tuhan untuk menjadi umat kesayangan-Nya. Bukan karena kehebatan maupun jumlahnya, melainkan semata-mata karena Allah mengasihi bangsa yang kerap bertegar tengkuk ini. Dia menuntun mereka keluar dari tanah Mesir, menolong mereka menaklukkan setiap musuh, dan memelihara mereka secara ajaib dari hari ke hari, sampai mereka masuk ke tanah perjanjian.

Siapakah kita ini sehingga Allah begitu mengasihi kita tanpa memandang dosa kita sebagai cacat? Bahkan, dalam keadaan kita yang berdosa pun, Dia menunjukkan kasih-Nya yang terbesar—dengan mengurbankan Putra-Nya—untuk mengangkat kita dari kubangan dosa dan memberi kita hidup berkemenangan. Dia sungguh adalah Ayah terhebat yang mau memberi segala yang terbaik bagi kita. Apabila begitu besar kasih dari Ayah terhebat kita itu, adakah kita perlu merasa gentar menjalani hidup ini?

TAK PERLU GENTAR MELANGKAH

KARENA KASIH ALLAH SELALU MENOPANG

Sumber: [Santhi Ratnaningsih]--[www.renunganharian.net]

Dianggap Baik

Baca: Yeremia 24
Ayat Mas: Yeremia 24:5, BIS
Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 6-8

Penelitian selama 25 tahun di Universitas Tel Aviv mendapati bahwa kinerja seseorang sangat dipengaruhi oleh pengharapan orang lain atas kinerjanya. Dalam satu percobaan, manajer sebuah kantor cabang bank dibagi dua. Kelompok A diberi tahu bahwa karyawan mereka luar biasa; kelompok B tidak diberi tahu apa-apa tentang potensi karyawan mereka. Sebenarnya potensi kedua kelompok karyawan itu sama. Nyatanya, manajer kelompok A membuahkan hasil yang lebih bagus, baik dari laba maupun kesuksesan ekonomis secara menyeluruh. Hal serupa ditemukan juga di sekolah, kalangan militer, dan berbagai badan sosial lain.

Pengharapan yang baik mengandung daya ubah yang luar biasa. Prinsip itu bersumber dari Allah sendiri, seperti yang dapat kita pelajari ketika Dia “mengubah” bangsa Israel yang dibuang ke Babel. Pertama, Dia “menganggap” mereka seperti buah ara yang bagus (ayat 5). Mereka tidak baik, tetapi Dia menganggap mereka baik dan memperlakukan mereka dengan baik (bandingkan dengan Roma 4:5). Sesudah itu, Dia “memberi mereka suatu hati untuk mengenal Aku” (ayat 7). Dia mengubahkan hati mereka sehingga mereka menjadi umat Allah yang sungguh-sungguh. Bukankah itu anugerah pembenaran dan kelahiran kembali?

Lalu, bagaimana menerapkannya secara horisontal? Kita ingin anak, murid, karyawan, dan tetangga kita semua baik, tetapi bisa jadi mereka menjengkelkan. Maukah kita lebih dulu mengasihi mereka, mengharapkan yang terbaik dari mereka (1 Korintus 13:5), menganggap mereka baik, dan memperlakukan mereka dengan baik?

HAL-HAL YANG TIDAK INDAH PERLU DIKASIHI SUNGGUH-SUNGGUH

SEBELUM BERUBAH INDAH DAN MENAWAN HATI—G.K. CHESTERTON

Sumber: [Arie Saptaji]--[www.renunganharian.net]

Selalu Ingat Akan Rahmat

Baca: Mazmur 25
Ayat Mas: Ratapan 3:21-23
Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 3-5

Sebagaimana halnya musik, setiap mazmur membawa suasana yang khas. Ada mazmur kegirangan; ada mazmur kedukaan; ada mazmur doa; ada mazmur pertobatan. Mazmur 25 adalah contoh mazmur pertobatan.

Pertobatan yang dialami Daud pertama-tama terjadi karena ia sadar telah banyak berdosa sejak muda (ayat 7). Syukur, bukan keberdosaannya saja yang ia catat. Jika hanya itu yang diingat, mungkin ia hanya akan menghukum dan menindas dirinya sendiri dengan rasa bersalah. Akan tetapi Daud juga mengingat rahmat dan kasih setia Tuhan yang besar. Kata ”kasih setia” dalam bahasa Ibrani adalah khesed. Khesed menunjuk pada kasih yang terus ada, tanpa bergantung pada tindakan orang yang dituju oleh kasih itu. Apa pun ulah orang, Tuhan tetap teguh dalam khesed-Nya. Dia tetap Allah yang berlimpah rahmat. Repotnya, ini bisa disalahpahami: karena Allah itu khesed, manusia tidak lagi takut berbuat dosa.

Lupa bahwa khesed ada untuk mengungkap kasih setia Tuhan, yang jauh lebih besar dari keberdosaan yang manusia lakukan sejak dulu. Kasih setia ini, dengan demikian, bukan ”tiket” untuk berbuat dosa. Namun, harus ditanggapi dengan ucapan syukur dan pertobatan.

Daud pun mengingat segala rahmat dan kasih setia Tuhan. Itu sebabnya ia berani terus melangkah, walaupun ia pernah salah. Keberanian melangkah yang tidak muncul karena rasa bangga diri, tetapi karena ia menyadari keadaan dirinya dan menyadari kedaulatan Tuhan. Apakah kita juga hidup dalam syukur akan rahmat Tuhan yang baru setiap pagi—dan dengan demikian tak lagi berkubang dalam dosa?

KEBERDOSAAN KITA TAK MENGHENTIKAN KASIH SETIA TUHAN

HENDAKNYA ITU MEMBUAT KITA BERHENTI MENDUKAKAN TUHAN

Sumber: [Daniel K. Listijabudi]--[www.renunganharian.net]

Orang Sederhana

Baca: 1 Korintus 1:18-31
Ayat Mas: 1 Korintus 1:25
Bacaan Alkitab Setahun: Ezra 10; Nehemia 1-2

Seorang doktor dimenangkan bagi Kristus ketika mendengar khotbah Dwight L. Moody. Ketika ia ditanya bagaimana hal itu terjadi, begini jawabnya, “Aku mau mendengar khotbahnya dengan maksud menertawakannya. Sebab, aku mengenalnya sebagai orang sederhana yang tak pernah mengenyam pendidikan. Aku yakin khotbahnya tidak logis dan ngawur. Tetapi ketika aku datang dalam kebaktian yang ia pimpin, aku mendapati hal yang berbeda. Ia berdiri di belakang Alkitab, dibakar oleh kekuatan firman Allah. Dan, hatiku seperti ditembak oleh firman Allah. Aku pun bertobat.”

Kita kerap kali mudah diintimidasi oleh Iblis agar tidak melayani Tuhan karena kita adalah orang yang sederhana, yang tidak punya pengalaman, atau tidak punya embel-embel titel di belakang nama kita. Jangan pernah mau diintimidasi dan ditipu iblis. Pendidikan dan kepandaian memang penting dan perlu, tetapi itu bukan segalanya. Yang terpenting, kuasa Allah menyertai pelayanan kita. Hidup kita terbuka untuk dipakai oleh Allah. Apa gunanya menjadi orang yang berhikmat, tetapi tidak memiliki kuasa Allah? Dwight L. Moody, hamba Tuhan yang sangat sederhana itu, mampu “mengguncang” dunia. Bahkan lewat hidupnya, jutaan jiwa telah dibawa kepada Kristus.

Jika kita mau menyediakan diri untuk dipakai oleh Allah, maka apa pun latar belakang hidup kita, percayalah bahwa kita dapat Dia pakai untuk memengaruhi dunia. Itulah artinya ”orang yang bodoh dari Allah akan mempermalukan orang yang berhikmat dari dunia ini”. Masihkah kita ragu melayani Tuhan hanya karena kita merasa sebagai orang sederhana dan tidak berpendidikan?

ALLAH BISA MEMAKAI ORANG YANG BODOH DI MATA DUNIA

UNTUK MEMPERMALUKAN YANG PALING BERHIKMAT DARI DUNIA

Sumber: [Petrus Kwik]--[www.renunganharian.net]

Kerelaan

Baca: 1 Tesalonika 2:8-12
Ayat Mas: 1 Tesalonika 2:8
Bacaan Alkitab Setahun: Ezra 7-9

Gerakan Indonesia Mengajar telah dimulai beberapa waktu lalu. Sebuah gerakan mengumpulkan dan melatih sarjana-sarjana berprestasi yang pernah atau sedang bekerja di perusahaan-perusahaan besar di berbagai tempat. Mereka dikirim ke berbagai sekolah di daerah-daerah terpencil di Indonesia untuk mengajar selama satu tahun; membagikan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki kepada anak-anak di daerah-daerah yang sangat kurang mendapat materi dan sarana untuk belajar. Sebuah tindakan yang mengajarkan prinsip kerelaan (voluntarisme).

Kerelaan melakukan suatu tugas tentu juga dilandasi dengan kecintaan terhadap tugas yang dijalankan. Paulus, suatu ketika melayani jemaat Tesalonika. Namun, karena tentangan yang datang dari kalangan Yahudi, ia mesti berpindah ke kota lain. Dalam kondisi seperti itu, Paulus tetap berpesan kepada jemaat Tesalonika agar mereka mengingat perjuangan yang Paulus lakukan atas mereka—dalam kasih sayang yang besar, bukan saja rela membagi Injil, melainkan juga rela membagi hidupnya sendiri (ayat 8). Kerelaan yang muncul karena Paulus mengasihi orang-orang Tesalonika; kerelaan yang lahir karena Paulus mencintai pekerjaan pemberitaan kabar baik yang Tuhan percayakan.

Mengharapkan lingkungan sekitar kita menjadi semakin baik tentu perlu tindakan nyata. Tindakan nyata yang disertai kerelaan berbagi—keterampilan, pengetahuan, kebenaran, bahkan iman—tentu akan menghasilkan buah-buah yang matang. Apakah kita memiliki waktu untuk berbagi dengan orang-orang di sekitar kita? Jika sudah, apakah kita telah membagikannya dengan rela serta dilandasi kasih?

KERELAAN BERBAGI ADALAH TINDAKAN NYATA

YANG DAPAT MENYENTUH DAN MENGUBAH HIDUP SIAPA SAJA

Sumber: [Sunandar Sirait]--[www.renunganharian.net]

Surga Sunyi Senyap

Baca: Wahyu 8:1-5
Ayat Mas: Mazmur 66:19
Bacaan Alkitab Setahun: Ezra 4-6

Jika seseorang ingin berbicara dengan Anda saat Anda menonton televisi, apa reaksi Anda? Tergantung. Apakah itu acara kesukaan Anda? Apakah suaranya terdengar? Yang paling menentukan, siapa yang memanggil? Seberapa penting ia bagi Anda? Apakah interupsinya mengganggu, atau justru menarik perhatian Anda? Itu terpulang pada tempat orang itu di hati Anda. Jika ia kekasih, Anda akan mengecilkan suara televisi—bahkan mematikannya, supaya ia mendapat perhatian Anda sepenuhnya.

Wahyu 5 melukiskan bagaimana surga dipenuhi puji-pujian bagi Anak Domba—Yesus Kristus. Penyembahan yang gegap gempita. Bahkan disuarakan seluruh makhluk dengan nyaring—paduan suara surgawi yang indah dan megah. Namun, ada saatnya—seperti tercatat di bacaan kita di pasal 8—surga tiba-tiba menjadi sunyi senyap (ayat 1). Paduan suara surgawi itu mendadak berhenti. Surga menjadi hening. Apa yang terjadi? Ternyata itu saat “dupa harum” (kemenyan) doa semua orang kudus naik ke hadirat Allah (ayat 3,4). Perhatian surga sedang tertumpah penuh pada doa para kekasih Tuhan. Doa kita semua. Dalam kemuliaan-Nya, Dia mendengar doa kita.

Kadang kita letih dan jemu berdoa, karena tidak yakin apakah Allah mendengar atau peduli pada doa kita. Seberapa penting doa saya dibanding doa para tokoh iman? Mungkin sebaiknya saya minta rohaniwan mendoakan saya. Pasti doa mereka lebih didengar. Tidak! Setiap kita ada di hati-Nya. Anda penting bagi-Nya. Jika Anda berdoa, Dia sangat peduli. Bahkan, surga senyap tatkala bisikan doa Anda terucap. Miliki keyakinan itu ketika berdoa. Dan jangan jemu berdoa!

BERDOALAH DENGAN KEYAKINAN BAHWA

ANDA MENDUDUKI TEMPAT YANG PENTING DI HATI TUHAN

Sumber: [Pipi Agus Dhali]--[www.renunganharian.net]

Terobsesi Kebencian

Baca: Markus 3:1-6
Ayat Mas: Markus 3:2
Bacaan Alkitab Setahun: Ezra 1-3

Apabila manusia terobsesi kebencian, ia akan selalu mencari cara dan celah untuk menjatuhkan orang yang dibenci. Meskipun orang itu berbuat baik dan benar, selalu ada cara untuk membuatnya buruk. Dulu, para pemimpin Yahudi dan orang Farisi juga sangat membenci Yesus. Sebagai rabi muda yang dalam sekejap menyedot ribuan massa karena pengajaran-Nya yang penuh kuasa dan mukjizat yang Dia lakukan, Yesus menyaingi posisi mereka sebagai penentu kehidupan beragama dan masyarakat Yahudi saat itu.

Ke mana pun Yesus berada untuk mengajar dan melayani, mereka membuntuti. Mereka mencari-cari celah agar dapat mempersalahkan-Nya. Suatu kali pada hari Sabat, seorang yang lumpuh sebelah tangannya datang pada Yesus. Dia tahu orang Farisi menunggu apakah Dia akan menyembuhkan sehingga dianggap melanggar Sabat versi agama Yahudi saat itu. Namun, Yesus menyuruh si lumpuh sebelah tangan berdiri di tengah, lalu dengan penuh kuasa Dia bertanya, ”Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat ... ?” (ayat 4). Kedengkian tersembunyi orang Farisi diungkap Yesus. Mereka sampai tak mampu menjawab-Nya sehingga Yesus menjadi marah. Sayangnya mereka tidak bertobat, malah bersekongkol dengan para Herodian, partai yang berkuasa saat itu, untuk membunuh Yesus (ayat 6).

Ya, Yesus marah jika berhadapan dengan kebencian. Akan tetapi, bagi setiap orang yang mau menghampiri-Nya, Dia berbelas kasihan. Mari datang kepada-Nya dan meminta Dia mengubah pikiran dan persepsi kita yang berdosa, agar kita lepas dari jerat kebencian.

KEBENCIAN MEMBUAT MATA ROHANI KITA TERBUTAKAN

HANYA PADA YESUS KITA DAPAT DIPULIHKAN

Sumber: [Susanto, S.Th.]--[www.renunganharian.net]

Punah

Baca: Yehezkiel 47:1-12
Ayat Mas: Yehezkiel 47:9
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 34-36

Pada 2004, penelitian International Union for the Conservation of Nature, sebuah organisasi konservasi alam, menemukan bahwa laju kepunahan spesies berjalan sekitar 100-1.000 kali lebih cepat daripada laju kepunahan normal. Kepunahan normal adalah kepunahan yang terjadi secara alami, bukan karena perbuatan manusia—seperti polusi, pembukaan hutan besar-besaran, perburuan berlebihan, dan sebagainya. Ya, tindakan manusia telah membuat banyak spesies punah begitu cepat. Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah bahwa sampai 2010, sekitar enam tahun sejak data itu dipublikasikan, tidak ada perbaikan seputar laju kepunahan ini. Bahkan, diperkirakan akan terus meningkat dan mencapai 10.000 kali laju kepunahan normal pada 2030.

Kepunahan yang sedang terjadi ini bertolak belakang dengan apa yang dilihat Yehezkiel dalam penglihatannya. Di situ ia melihat bagaimana alam bertumbuh dengan lestari, menikmati sungai kehidupan yang mengalir dari Bait Allah. Bait Allah sendiri adalah tanda kehadiran Allah bagi umat Israel, menunjukkan pemahaman bahwa kehadiran Allah membuahkan kehidupan yang melimpah.

Sebagai umat kristiani, kita percaya bahwa umat Tuhan juga mewakili kehadiran-Nya di dunia.

Karena itu, kehadiran kita juga seharusnya menghasilkan dan memulihkan alam yang lestari. Atau, setidaknya, tidak menambah kerusakan alam. Secara praktis, ini bisa dilakukan dengan memiliki gaya hidup yang bersahabat dengan alam. Misalnya dengan ikut memelihara tumbuhan, merawat kebersihan lingkungan, tidak mengonsumsi produk dari spesies yang terancam punah, dan sebagainya.

ALLAH MEMBERI ALAM YANG LESTARI

AGAR CIPTAAN-NYA TERJAGAI

Sumber: [Alison Subiantoro]--[www.renunganharian.net]

Bagi Kepentingan Tuhan

Baca: Yohanes 9:1-7
Ayat Mas: Yohanes 9:3
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 31-33

Nick Vujicic, dilahirkan dengan cacat langka yang disebut tetra-amelia. Ia tak punya lengan mulai dari bahu, dan hanya memiliki satu kaki kecil dengan dua jari yang tumbuh dari paha kirinya. Di luar kekurangan itu, Vujicic sangat sehat. Namun, ketika sudah bersekolah, tak urung kekurangan fisiknya menjadi pusat olokan. Ia sampai memohon agar Tuhan menumbuhkan tangan dan kakinya. Namun, kondisi tak berubah. Ia pun depresi. Pada usia 8 tahun, ia pernah mencoba bunuh diri.


Pada waktu Tuhan yang tepat, ia dimampukan untuk memandang hidupnya secara baru: dalam kondisinya itu, Tuhan justru dapat memakainya menjadi inspirasi bagi banyak orang. Maka, ia menyerahkan hidup untuk melayani Tuhan di banyak negara. “Jika saya dapat memercayai Tuhan dalam keadaan saya, Anda pun dapat memercayai Tuhan dalam keadaan Anda,” simpulnya. Tuhan pun memampukannya meraih banyak pencapaian—bahkan dalam beberapa hal ia lebih baik daripada orang normal.

Vujicic memercayai rencana Tuhan yang baik baginya. Bahwa hidup bukan demi kepentingannya pribadi, melainkan kepentingan Tuhan. Apa pun kondisinya, ia dapat melayani Tuhan dengan cara dan kesempatan terbaik yang ia miliki. Pekerjaan Allah pun dinyatakan di dalam dia. Seperti yang Tuhan kerjakan dalam hidup Bartimeus yang buta sejak lahir. Tuhan dimuliakan lewat hidupnya. Kini giliran kita. Tujuan hidup kita pun bukan demi kenyamanan atau kesuksesan pribadi kita. Akan tetapi, untuk kemuliaan-Nya. Pandanglah hidup secara demikian. Maka, tak ada hidup yang tak berguna. Sebaliknya, setiap hidup dapat menjadi alat berharga bagi kemuliaan-Nya yang kekal

SETIAP HIDUP PASTI BERGUNA

BILA DIBERIKAN MENJADI TEMPAT TUHAN BERKARYA

Sumber: [Agustina Wijayani]--[www.renunganharian.net]

Nyanyian Kemenangan

Baca: Wahyu 15:1-8
Ayat Mas: Wahyu 15:3
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 28-30

Umat kristiani adalah umat yang penuh dengan nyanyian. Nyanyian tak terpisahkan dari kehidupan iman sehari-hari, baik waktu senang maupun susah. Saat para martir di jemaat mula-mula menghadapi hukuman mati, mereka memasuki arena sambil menyanyikan mazmur dan pujian. Mereka terus menyanyi tanpa gentar, meski sebentar lagi harus berhadapan dengan kawanan singa yang siap menerkam mereka. Para penonton yang memenuhi amfiteater takjub menyaksikannya. Sikap ini menyadarkan Kekaisaran Roma bahwa suatu kekuatan yang baru dan revolusioner tengah bangkit.

Nyanyian bukan hanya mengalun di bumi ini; surga pun semarak dengan nyanyian megah. Rasul Yohanes mencatat nyanyian umat yang mengalami kemenangan iman. Nyanyian Musa merayakan kedahsyatan tangan Allah saat membebaskan Israel dari belenggu perbudakan Mesir (Keluaran 15). Nyanyian Anak Domba mengumandangkan kemenangan penuh umat Allah atas kuasa dosa dan Iblis.

Nyanyian mengungkapkan kasih dan rasa syukur secara indah, mengangkat hati dan suara umat kepada Allah. Nyanyian juga mendeklarasikan kekuasaan dan keagungan Allah kepada setiap telinga yang mendengarnya.

Anda sedang bersukacita karena mengalami kemenangan atas suatu masalah? Bernyanyilah! Atau, Anda sedang berdukacita karena bergulat dengan suatu tantangan yang berat? Bernyanyilah! Tak ada alasan untuk tidak memuji Allah. Dialah Pembebas kita. Kalaupun kita, seperti para martir, tidak mengalami pembebasan di bumi ini, kita akan merayakan pembebasan sejati di surga nanti.

NYANYIAN PUJIAN ADALAH UNGKAPAN IMAN

YANG TERANGKAI DALAM KESELARASAN NADA

Sumber: [Arie Saptaji]--[www.renunganharian.net]

Jumat, 06 Mei 2011

Meluruskan dan Meratakan

Baca: Lukas 3:1-6
Ayat Mas: Lukas 3:5
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 25-27

Yohanes Pembaptis adalah tokoh yang istimewa. Pakaiannya bulu unta, makanannya belalang dan madu hutan. Ia anak tunggal Zakaria dan Elizabet. Ia masih termasuk sepupu Tuhan Yesus. Umurnya pendek. Khotbahnya juga pendek; tetapi tajam, lugas, jelas. Ditujukan dengan berani kepada siapa saja, tanpa pandang bulu dan tanpa sungkan. Pekerjaannya berkhotbah dan membaptis orang yang bertobat. Membuat gelisah siapa pun yang mendengarnya. Khotbahnya bak geledek—membuat telinga merah, hati panas, muka merah padam karena “ditelanjangi” habis-habisan. Raja Herodes juga menjadi sasaran khotbah-khotbah kenabiannya (Lukas 3:19).

Namun, yang harus diingat, Yohanes melakukan itu semua tanpa maksud jahat, sentimen, mumpung didengar banyak orang, atau hendak membunuh karakter. Bukan! Khotbah, nasihat, serta jawaban-jawaban pertanyaan yang ia berikan (ayat 10-17) adalah untuk memberitakan Injil (ayat 18). Bahwa manusia tidak bisa lari dari murka Allah (ayat 7). Hukuman pasti datang.

Jalan hidup orang berdosa diumpamakan Yohanes seperti ”lembah ... gunung ... bukit ... berliku-liku ... berlekuk-lekuk”. Akan tetapi, Yohanes juga mengatakan bahwa Tuhan sanggup ”meratakan dan meluruskan” (ayat 5). Akan tetapi, dibutuhkan kerjasama dua pihak di sini—antara manusia dan Tuhan. Dan, inilah pesan Yohanes: Jika bertobat dan dibaptis, maka yang berdosa masih beroleh kesempatan melihat keselamatan dari Tuhan (ayat 6). Bertobat dulu, baru dibaptis. Baptis memeteraikan pertobatan. Pertobatan menjadi intinya. Dengan ini Allah mengampuni dosa manusia.

DOSA MELUBANGI HATI MANUSIA

DAN HANYA TUHAN YANG SANGGUP MENUTUPNYA

Sumber: [Daniel K. Listijabudi]--[www.renunganharian.net]

Mensyukuri Bumi

Baca: Kejadian 1:26-28
Ayat Mas: Mazmur 89:12
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 22-24

Sejak pembentukannya, bumi bergerak secara dinamis—walau sulit kita sadari dan amati. Pergerakan bumi menyebabkan terjadinya akumulasi kekayaan alam seperti mineral, minyak, gas bumi, dan panas bumi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Namun, dinamika bumi juga dapat berupa letusan gunung api, gempa, ataupun gerakan tanah (longsor) yang perlu diwaspadai.


Ketika Tuhan menciptakan bumi dan segala isinya, manusia diberi mandat untuk memenuhi dan menaklukkan bumi; berkuasa atas segala binatang di udara, darat, dan air (ayat 26,28). Sayang sekali manusia kerap menerjemahkan mandat ini dengan mengeksploitasi bumi dan tidak memberi ruang bagi margasatwa untuk hidup damai di habitatnya. Manusia lupa bahwa ia diciptakan menurut gambar-Nya (ayat 27), bahwa Tuhan ingin manusia memelihara harmoni bumi dengan kasih.

Belajar dari sejarah bencana alam dan punahnya margasatwa di Indonesia, konsekuensi manusia menempati bumi haruslah diimbangi dengan kearifan, kepekaan, dan kecintaan terhadap alam. Biarlah setiap pelajar semakin terpacu untuk mempelajari geliat alam dan bagaimana bersahabat dengan alam. Biarlah setiap pengusaha tidak berlomba membetonkan hutan, tetapi memikirkan pemulihannya. Biarlah setiap petani dan peladang mengerjakan lahannya dengan baik dan tidak membakar hutan. Biarlah para guru mengajarkan berkat Tuhan yang besar pada alam Indonesia. Biarlah pengelolaan bumi dan kelangsungan hidup margasatwa dilakukan dalam semangat pemeliharaan Tuhan. Mari mensyukuri bumi dengan memeliharanya!

CARA TERBAIK MANUSIA MENGUASAI BUMI

ADALAH DENGAN MEMELIHARA BUMI

Sumber: [G. Sicillia Leiwakabessy]--[www.renunganharian.net]

Curang

Baca: Mikha 6:8-16
Ayat Mas: Mikha 6:10
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 19-21

Di sebuah perjalanan dengan kereta api Semarang-Jakarta, saya menyaksikan sebuah iklan layanan masyarakat tentang praktik berdagang yang jujur. Di situ digambarkan ada seorang ibu yang membeli gula di pasar. Setelah menerima barangnya, si ibu curiga bahwa gula yang ia terima lebih sedikit daripada yang seharusnya. Maka, ia pergi ke pos uji ulang yang ada di pasar itu. Ternyata benar bahwa ia telah ditipu. Ia pun kembali kepada si pedagang yang menjual gula kepadanya dan memperingatkan konsekuensi hukum bagi mereka yang berdagang dengan timbangan yang curang.

Tuhan juga sangat peduli dengan praktik bisnis yang jujur. Dalam perikop kita hari ini, kita mendapati bagaimana Tuhan marah karena ada orang-orang di Israel yang melakukan kecurangan dalam menjalankan usaha. Baik itu dengan menggunakan takaran efa yang kurang, timbangan yang menipu, tindak kekerasan, maupun perkataan dusta. Atas kecurangan mereka ini, Tuhan menyatakan penghukuman dengan menarik berkat-berkat-Nya atas mereka.

Dalam menjalankan sebuah usaha, memang kita berusaha mencari keuntungan. Akan tetapi, anak Tuhan harus melakukannya dengan cara yang jujur dan menjadi berkat. Sebab, Tuhan jijik terhadap praktik-praktik curang. Bahkan, hukum juga memandang kecurangan sebagai pelanggaran. Dalam etika dunia usaha pun, meski mungkin sempat mendapat untung lebih besar, mereka yang suka menipu akhirnya akan ditinggalkan para pelanggan. Jadi, jalankanlah setiap usaha kita dengan jujur. Dan, jadilah berkat lewat cara kita menjalankan usaha.

TAK ADA GUNA CURANG DEMI MENDAPAT KEUNTUNGAN

SEBAB SESUDAHNYA HATI KITA TAK AKAN TENTERAM

Sumber: [Alison Subiantoro]--[www.renunganharian.net]

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More