Rabu, 15 Juni 2011

Menemukan Tuhan

Baca: Ezra 8:15-23
Ayat Mas: Ezra 8:18
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 26-28

Banyak orang berusaha menemukan dan merasakan kehadiran Tuhan dengan mencari mukjizat-mukjizat atau tanda-tanda ajaib yang besar. Padahal, jika kita berusaha merasakan hadirat Tuhan lewat hal-hal spektakuler saja, akan sangat mungkin sukacita kita hanya bersifat sementara. Sebab setelah sekian waktu, hadirat Tuhan seolah-olah tak lagi dirasakan. Dan, kita bisa mudah menjadi kecewa jika tak segera ada hal spektakuler yang terjadi lagi.

Kita dapat belajar dari pengalaman Ezra yang menemukan dan merasakan hadirat Tuhan bukan sebatas pada hal-hal spektakuler yang ia alami. Ia justru menemukan Tuhan dengan memaknai hal-hal kecil, sederhana, sehari-hari, melalui mata imannya. Perikop Alkitab hari ini ialah bagian dari kesaksian Ezra tentang bagaimana ia dan rombongannya bisa tiba di Yerusalem—dari Babel—dengan selamat. Di situ ia menceritakan dua peristiwa yang ia alami; yaitu terkumpulnya orang-orang yang tepat (ayat 18-20) dan perjalanan yang aman (ayat 21-23). Bukankah kedua peristiwa ini sebetulnya tampak “biasa saja”? Orang yang bukan umat Allah pun bisa mengalami kedua hal tersebut. Akan tetapi, karena Ezra melihat kedua peristiwa ini dari sudut pandang iman, maka hal-hal tersebut membuatnya merasakan kehadiran dan penyertaan Tuhan yang jelas.

Mari kita senantiasa membuka hati bagi kehadiran Tuhan secara nyata, dengan selalu mensyukuri hal-hal sehari-hari yang tentu terjadi karena kebaikan dan perkenan Tuhan. Maka, tidak ada hari yang berlalu dengan biasa, sebab selalu ada campur tangan Tuhan yang luar biasa.

TEMUKANLAH KEHADIRAN TUHAN

MELALUI HAL-HAL SEDERHANA DALAM KESEHARIAN

Sumber: [Alison Subiantoro]--[www.renunganharian.net]

Sabtu, 04 Juni 2011

Gigih Berkata Ya

Baca: 2 Timotius 2:14-26
Ayat Mas: 2 Timotius 2:22
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 22-25

Sebagian orang menggambarkan kekudusan sebagai sikap antipati terhadap kesenangan-kesenangan tertentu. Tidak boleh menonton film, tidak boleh menonton televisi, tidak boleh mendengarkan dan menyanyikan lagu duniawi, tidak diperkenankan makan hidangan tertentu. Gambaran seperti itu justru mengaburkan makna kekudusan.

Paulus menggambarkan kekudusan sebagai dua proses berkesinambungan. Kekudusan mengandung aspek menjauhi (berkata tidak pada) sesuatu, sekaligus mengejar (berkata ya pada) sesuatu yang lain. Karenanya, berfokus pada aspek berkata tidak pada dosa saja tidak cukup. Biasanya itu akan menjerat kita dalam lingkaran setan—berusaha, gagal, berusaha lebih keras, gagal, berusaha lebih keras lagi, gagal—lalu frustrasi.

Kita perlu melengkapinya dengan berkata ya pada Kristus, dengan menaati kehendak-Nya. Bahkan, inilah seharusnya fokus utama kita. Penyair Scott Cairns mengungkapkan, ”Orang yang paling kuat di dunia ini tidak cukup untuk menang atas dosanya sekadar dengan berkata tidak pada dosa itu. Yang kita perlukan ialah anugerah yang membangkitkan kekuatan disertai dengan kesediaan kita untuk berkata ya pada sesuatu yang lain, berkata ya, dan ya, dan ya—tanpa henti-henti—pada Seseorang, yaitu Kristus.”

Anda bergumul dengan dosa tertentu? Tentu saja Anda perlu meminta anugerah Tuhan agar mampu menjauhinya. Namun, mintalah pula ide dan kekuatan untuk menemukan dan menjalankan aktivitas yang selaras dengan kebenaran firman-Nya. Dengan demikian, perhatian Anda tidak lagi tertuju pada dosa, melainkan terarah pada kasih dan kekudusan Tuhan

MAKIN GIGIH KITA BERKATA YA KEPADA KRISTUS

MAKIN JAUH KITA MENINGGALKAN DOSA

Sumber: [Arie Saptaji]--[www.renunganharian.net]

Rajawali dan Matahari

Baca: Mazmur 103:1-5
Ayat Mas: Mazmur 103:5
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 19-21

Kini memang eranya alat elektronik canggih. Kita dibuat kagum dengan banyaknya macam dan kehebatan alat elektronik. Namun, betapa pun hebatnya alat-alat itu, tak ada satu pun yang berguna jika tidak mengandung daya listrik. Jika baterainya melemah, maka saatnya alat itu harus dihubungkan kembali dengan sumber listrik. Sampai ia siap dipakai lagi.

Pemazmur melukiskan kondisi rohani kita dengan ilustrasi burung rajawali (ayat 5). Rajawali bukannya tak bisa menjadi lelah. Bisa. Apalagi ia suka terbang tinggi. Namun, ia punya cara mengatasinya, yakni mendekatkan diri ke arah matahari. Bahkan di wilayah empat musim, ia punya kebiasaan unik pada musim semi, yakni naik di ketinggian terbuka sambil berjemur di bawah cahaya sang surya. Sementara ia menyerap energi matahari, lapis luar bulu-bulu badannya rontok; hingga terjadilah “peremajaan” pada dirinya. Setelah itu, ia kembali terbang dengan kekuatan dan penampilan baru. Begitulah keintiman kita dengan Tuhan. Tuhan menyediakan limpahan kasih setia dan rahmat. Serupa rajawali yang diterpa cahaya matahari—dikuatkan, disegarkan—kita pun dapat ”diremajakan” dengan semangat dan kekuatan baru.

Apakah Anda letih secara rohani? Anda tidak sendiri. Tiap anak Tuhan mengalaminya. Kita bisa lesu rohani akibat kesibukan, hantaman kesusahan hidup, dan deraan rasa bersalah. Jangan biarkan berlarut-larut. Apa pun yang terjadi, jangan menjauh dari Tuhan! Hanya pada-Nya kita menemukan rahmat dan pengampunan (ayat 3). Hanya Dia sumber kekuatan kita. Carilah Tuhan. Temui hadirat-Nya. Akrabi firman-Nya. Hadirilah persekutuan anak-anak-Nya. Dia pasti menyegarkan jiwa dan membarui kekuatan Anda.

JIKA KITA KEHILANGAN ATAU KEKURANGAN KEKUATAN

MENDEKATLAH PADA SUMBER KEKUATAN, YAITU TUHAN

Sumber: [Pipi Agus Dhali]--[www.renunganharian.net]

100.000 Kata!

Baca: Yakobus 3:1-12
Ayat Mas: Yakobus 3:5
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 16-18

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa rata-rata setiap orang punya 700 kesempatan untuk berbicara kepada orang lain setiap hari. Dan, orang yang banyak bicara memakai 12.000 kalimat atau kira-kira 100.000 kata dalam sehari! Bayangkan, berapa masalah yang timbul dalam sehari oleh 100.000 perkataan, dan berapa banyak berkat yang dihasilkannya?

Hati-hati dengan perkataan! Ada banyak orang terluka karena kata-kata yang tidak tepat dan tidak bijaksana. Sebagai orangtua, kadang kita tidak menyadari bahwa perkataan kita menyakiti anak-anak kita. Sebagai orang kristiani, kadangkala perkataan kita justru menjadi batu sandungan bagi orang yang mendengarnya. Tanpa sadar dari mulut kita keluar perkataan sinis, tajam, keras, pedas bahkan perkataan kotor yang tidak seharusnya keluar dari mulut kita. Belum lagi orang kristiani yang hobi menggosip. Bisa dibayangkan akibatnya?

Tuhan menghendaki kita benar-benar bertanggung jawab atas setiap kata yang kita ucapkan, sementara selama ini mungkin kita tak peduli dengan kata-kata yang meluncur dari mulut kita. Kita tak pernah peduli apakah kata-kata kita menjadi berkat, atau sebaliknya, menyakiti hati orang lain.


SUDAHKAH KITA BERTANGUNG JAWAB

ATAS SETIAP KATA YANG KELUAR DARI MULUT KITA?

Sumber: [Petrus Kwik]--[www.renunganharian.net]

Mendayung Kehidupan

Baca: Markus 4:35-41
Ayat Mas: Markus 4:40
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 13-15

Saat anak saya berusia 2,5 tahun, ia meminta sepeda. Ketika saya penuhi, betapa senangnya hatinya. Ia mengayuh sepedanya ke sana-kemari, sampai harus diperingatkan untuk lebih perlahan. Tanpa saya pegang, ia berkeliling halaman sepuasnya dengan sepeda itu. Apakah ia sudah bisa mengayuh sepeda sendiri? Jelas tidak. Dua roda tambahan di bagian belakang sepeda itu masih melekat dan menyangga sehingga anak saya tidak akan jatuh ketika bermain dengan sepedanya. Dan, roda tambahan itu membuat anak saya percaya diri mengayuh sepedanya ke mana saja ia mau.

Kontras dengan murid-murid Tuhan. Mereka kehilangan kepercayaan diri ketika badai datang. Mereka seolah-olah tidak punya pegangan ketika percikan demi percikan air laut yang ganas menerjang, memasuki perahu yang mereka tumpangi. Mereka takut kehilangan nyawa. Mereka bahkan berhenti pada titik di mana mereka meragukan diri sendiri, kehilangan kepercayaan, bahkan meragukan Tuhan (ayat 38) seolah-olah Tuhan tidak peduli kepada mereka. Mereka lupa bahwa bersama Tuhan, hidup menjadi lebih ringan, karena Dia dapat diandalkan.

Apa yang membuat kita khawatir, lemah, ragu, dan cenderung tidak percaya diri ketika menjalani kehidupan kita? Janganlah seperti para murid yang meragukan diri sendiri ketika Tuhan justru sedang bersama-sama dengan mereka. Bertindaklah seperti anak saya. Ia tahu bahwa dengan roda penyangga itu, ia punya rasa aman dan yakin tidak akan jatuh. Sebab itu, kita harus menjalani hidup kita dengan penuh keyakinan karena kita tahu dan yakin Tuhan selalu menyangga hidup kita

YANG KITA PERLUKAN HANYA MENJALANI HIDUP

BIARKAN TUHAN MENOPANG BAGIAN YANG SULIT KITA TANGGUNG

Sumber: [Fotarisman Zaluchu]--[www.renunganharian.net]

Rumah Idaman

Baca: Yohanes 14:1-14
Ayat Mas: Yohanes 14:2
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 10-12

Kita semua tentu sepakat bahwa rumah adalah salah satu kebutuhan terpenting manusia. Itulah sebabnya orang berjuang, bekerja, dan mengumpulkan uang sedemikian rupa agar dapat membeli dan memiliki rumah atau minimal mengontrak. Entah rumah itu besar atau kecil; entah dibangun dengan dinding bata atau kayu. Keberadaan rumah begitu penting karena di situlah kita tinggal, berlindung, beristirahat, dan melewatkan waktu bersama orang-orang yang kita kasihi.


Harapan tersebut sesungguhnya juga mencerminkan kerinduan kita yang terdalam akan sebuah “rumah” yang kekal. Di mana? Di surga bersama-sama dengan Allah. Dia sangat mengerti kerinduan manusia yang terdalam ini. Oleh sebab itu, inilah janji Tuhan: “Janganlah gelisah hatimu .... Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal .... Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu” (ayat 1,2). Tuhan menyediakan rumah bagi kita di surga. Ini luar biasa. Dan, inilah alasan Dia naik ke surga setelah bangkit dari kematian.

Kita sudah terbiasa merayakan Natal, Jumat Agung, dan Paskah. Kita tahu dan sering mendengar khotbah mengenai hati yang harus kita persiapkan untuk menyambut hari-hari raya tersebut. Sekarang kita memasuki hari di mana kita memperingati kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Seperti apa hati yang harus kita miliki saat merayakannya? Hati yang bersyukur dan tidak lagi khawatir akan masa depan kita kelak. Sebab, Tuhan sudah menjamin bahwa siapa pun yang percaya kepada-Nya dan menjadikan Dia Tuhan dan Juru Selamat akan tinggal di surga kelak bersama dengan-Nya. Ada “rumah idaman” yang telah Tuhan sediakan di sana secara cuma-cuma; sebab harganya telah lunas dibayar.

RAYAKAN KENAIKAN TUHAN YESUS

DENGAN HATI YANG PENUH UCAPAN SYUKUR

Sumber: [Riand Yovindra]--[www.renunganharian.net]

Garang dan Baik

Baca: Mazmur 2
Ayat Mas: Mazmur 2:11,12
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 7-9

Dalam novel C.S. Lewis, The Lion, the Witch, and the Wardrobe, anak-anak Pevensie pertama kali mendengar tentang Aslan saat makan dengan keluarga berang-berang. Aslan, sang singa, adalah penguasa Narnia; dimaksudkan sebagai simbol Kristus, Singa dari Yehuda. Bu Berang-berang berkata, ”Kalau ada yang bisa muncul di hadapan Aslan tanpa lutut gemetar, ia lebih berani dari kebanyakan orang atau mungkin sekadar bodoh.” Mendengar cerita itu, Susan Pevensie bertanya, ”Apakah—apakah aman mendekatinya?” Pak Berang-berang menjawab, ”Aman? Siapa yang menyebut tentang aman? Tentu saja ia garang. Tetapi ia baik.”

Garang, tetapi baik—gambaran yang terdengar kontradiktif. Namun, C.S. Lewis sebenarnya hanya menggemakan keterangan para penulis Kitab Suci dalam menggambarkan sosok Allah. Mazmur 2, misalnya, menampilkan sosok Allah Yang Mahakuasa, yang sanggup menghancurkan para penguasa dunia yang menentang-Nya. Dia tidak dapat didekati secara sembarangan, tetapi patut disembah selayaknya Raja Agung. Uniknya, meskipun membangkitkan rasa takut, Allah juga mendatangkan kebahagiaan. Orang yang berlindung kepada-Nya diberkati, mengalami kebaikan dan kemurahan-Nya.

Kita cenderung memiliki gambaran yang tidak seimbang tentang Allah, dan pemazmur mengoreksinya. Apabila ada yang menganggap Allah itu hanya mengasihi—maka ia diingatkan bahwa Allah juga membangkitkan rasa takut. Apabila ada yang menganggap Allah itu hanya memurkai—ia diingatkan bahwa Allah juga penuh belas kasihan. Kita perlu belajar menyembah Allah dengan sikap yang patut.

KASIH ALLAH DAN MURKA ALLAH TIDAK DAPAT DIPISAHKAN

ITU DUA SISI DARI PRIBADI-NYA YANG SEMPURNA

Sumber: [Arie Saptaji ]--[www.renunganharian.net]

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More