Jumat, 02 September 2011

HEROIK

Bacaan Setahun : Yehezkiel 1-4

Nats : Tuhan yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu (1 Samuel 17:37)

Bacaan : 1 Samuel 17:31-39

Majalah Tempo edisi khusus tokoh pilihan menulis tentang sembilan pahlawan dari tanah bencana. Dan, salah satu tokoh yang ditulis di situ adalah Ferry Imbiri, seorang guru SD Inpres Wasior. Kisah heroiknya dicatat bukan hanya karena ia mengambil keputusan meliburkan anak-anak tatkala melihat air sungai meluap, tiga puluh menit sebelum bencana air bah menimpa Wasior. Akan tetapi, juga keberaniannya mengarungi derasnya air dengan menggandeng tujuh orang di tangannya.

Di dalam Alkitab juga ada seseorang yang memiliki sikap heroik, yaitu Daud. Anak bungsu Isai, yang masih sangat muda dan tentu perawakannya belum sebesar atau segagah kakak-kakaknya yang menjadi barisan tentara Saul. Akan tetapi, di tengah ketakutan yang melanda seluruh tentara Israel karena digertak oleh Goliat, Daud memberanikan diri untuk maju melawan sang pahlawan dari negeri Filistin. Daud maju bukan karena ia nekat atau sok berani, apalagi berharap upah atau penghargaan, melainkan ia maju karena tidak terima melihat bangsanya barisan tentara Allah diolok-olok sedemikian rupa. Berangkat dari hati yang seperti inilah akhirnya Daud tampil menjadi sosok heroik di Israel.

Seorang yang berjiwa heroik masih terus dibutuhkan hingga saat ini. Seseorang yang menolong orang lain tanpa memedulikan keuntungan apa yang akan ia peroleh. Seseorang yang sama sekali tidak mengharap pujian atas perbuatan baiknya, apalagi memanfaatkan kesempatan untuk keuntungan diri sendiri di tengah kesempitan yang dialami orang lain. Seseorang yang bangkit menolong yang lain karena hatinya mengasihi Tuhan dan sesama --RY

TOLONGLAH ORANG TANPA PAMRIH

ITULAH SIKAP HATI PAHLAWAN YANG SESUNGGUHNYA

BRUCE BOWEN

Bacaan Setahun : Ratapan 4-5

Nats : Karena itu, seharusnya uangku itu kauberikan ke bank, supaya pada waktu aku kembali, aku menerimanya serta dengan bunganya (Matius 25:27)

Bacaan : Matius 25:14-30

Bruce Bowen bukanlah atlet basket luar biasa seperti Michael Jordan atau Kobe Bryant. Kemampuannya "terbatas" pada menjaga lawan dan membuat tembakan tiga angka dari pinggir lapangan. Akan tetapi, dengan maksimal ia melakukan kedua hal tersebut, tanpa harus merasa bersalah karena tak dapat melakukan hal hal lain, apalagi yang di luar kemampuannya. Hasilnya, ia dikenal sebagai seorang anggota terpenting dari tim San Antonio Spurs yang berhasil memenangkan 3 gelar juara liga bola basket Amerika Serikat (NBA) dalam jangka waktu 5 tahun (2002-2007).

Di dunia ini memang ada orang-orang yang sangat berbakat yang diberi lima talenta oleh Tuhan. Kepada mereka, Tuhan berharap mereka melipatgandakan talentanya secara sepadan. Sementara itu ada orang-orang lain yang dianugerahi kemampuan yang lebih terbatas, yang hanya menerima dua atau satu talenta saja. Harapan Tuhan atas mereka pun sebenarnya sama; mengelolanya sebertanggung jawab mungkin agar setiap pribadi memberi yang terbaik dari dirinya.

Sebab itu, berapa saja talenta yang Tuhan anugerahkan kepada kita, tidak menjadi soal. Yang penting kita tidak hanya berpuas diri karena memilikinya, tetapi bersedia memberi diri untuk mengelolanya dengan tekun. Mengerjakannya dengan setia sehingga meneguhkan karya Allah di hidup kita serta memuliakan kebesaran-Nya. Bahkan sekalipun kita hanya memiliki satu talenta, tetapi apabila dikelola dengan kerajinan dan kesungguhan hati, akan mendatangkan berkat besar bagi diri sendiri maupun sesama. Dan, menyenangkan hati Tuhan --ALS

TUHAN TIDAK MEMINTA KITA MELAKUKAN APA YANG TIDAK KITA BISA

tetapi MELAKUKAN APA YANG KITA BISA DENGAN SETIA

TONGKAT HARUN

Bacaan Setahun : Ratapan 1-3

Nats : Di dalam tabut perjanjian itu tersimpan botol emas berisi manna, tongkat Harun yang pernah bertunas dan loh-loh batu yang berisi perjanjian (Ibrani 9:4)

Bacaan : Bilangan 17

Pada 2009, seseorang dengan nama pena Chaos@Work menulis sebuah buku berjudul My Stupid Boss. Buku ini bercerita tentang "kegilaan" bos si penulis; dari meminta barang supplier secara cuma-cuma sampai menyalahkan anak buah ketika kapal lautnya terhambat cuaca buruk. Ternyata kisah bos yang "bodoh" ini menarik perhatian masyarakat luas. Bahkan setelah terbit jilid keduanya, muncul juga My Stupid Boss edisi Fans’ Stories, yang berisi curahan hati para pembaca mengenai para bos mereka sendiri.

Kesuksesan serial My Stupid Boss yang telah berulangkali dicetak ulang ini menguak sebuah realitas bahwa di dunia atau minimal di Indonesia banyak orang menjalankan kepemimpinannya dengan kurang bijak. Lalu, seperti apa sebaiknya sikap kita dalam menjalankan tugas kepemimpinan?

Pertama, kita harus ingat bahwa Tuhan tak menuntut bahwa hanya manusia "sempurna" yang dapat mengisi posisi pemimpin. Bahkan, Harun pernah mengizinkan bangsa Israel menyembah lembu emas dan bersekongkol dengan Miryam untuk melawan Musa (Bilangan 12). Namun, terpujilah Tuhan, ia masih dipercaya dan diberi kesempatan untuk memimpin. Kedua, sebagaimana tongkat yang kering menjadi hidup, kepemimpinan kita harus menghasilkan buah bagi sesama, serta mengubah lingkungan menjadi lebih baik.

Pada akhirnya, tongkat Harun yang bertunas itu disimpan bersama Tabut Perjanjian. Setinggi apa pun posisi kita, seperti Harun yang diangkat menjadi imam besar Israel, ingatlah bahwa semuanya berasal dari Tuhan. Maka, kita harus mempertanggungjawabkannya kembali kepada-Nya --OLV

KEPEMIMPINAN SEJATI ADALAH KEPEMIMPINAN

YANG BERBUAH DAN BERTANGGUNG JAWAB KEPADA TUHAN

ALLAH YANG PEKA

Bacaan Setahun : Yeremia 50-52

Nats : Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub (Keluaran 2:24)

Bacaan : Keluaran 2:23-25

Apakah Tuhan ada? Andaikata Dia ada, mengapa Dia diam saja tatkala banyak bencana terjadi? Mengapa hidup manusia harus penuh dengan berbagai kemalangan? Mengapa kesulitan tidak pernah hengkang dari hidup ini? Demikianlah beberapa pertanyaan mendasar yang dapat muncul di hati orang yang hidupnya tengah dirundung berbagai kesusahan. Lalu, bagaimana menjelaskan hal ini kepadanya?

Dalam kitab Keluaran, kita mendapati kisah tentang Tuhan yang ternyata mau berurusan dengan persoalan manusia. Di sini setidaknya ada empat kata kerja aktif yang ditujukan kepada Tuhan: mendengar, mengingat, melihat, memperhatikan (ayat 24, 25). Tuhan rupanya adalah Allah yang personal, yang melibatkan diri secara pribadi. Dia empatik (turut merasakan) dan partisipatif (turut ambil bagian). Kita patut menaikkan syukur karena boleh mengalami kehangatan pribadi Tuhan kita yang nyatanya begitu peka. Segala urusan manusia di bumi ini, ternyata juga menjadi minat dan perhatian dari Tuhan yang bersemayam di surga.

Apakah kita sedang tidak merasakan kehadiran Tuhan? Jangan-jangan itu terjadi karena kita kurang peka akan kehadiran-Nya yang nyata di depan mata. Apabila demikian yang kita alami, cobalah lakukan hal berikut di tengah kepedihan: arahkan segala sedu sedan kita hanya kepada Dia; dengan memanjatkan doa yang mengantar kita ke pelukan-Nya; dengan membaca firman Tuhan hingga kita tahu apa yang Dia maksudkan dalam setiap peristiwa; dengan menyanyikan puji-pujian. Semuanya akan menghangatkan hati kita sehingga dapat merasakan kehadiran-Nya --DKL

TUHAN YANG BERTAKHTA DI SURGA SUCI

SESUNGGUHNYA ADALAH TUHAN YANG MEMBUMI

MENJADI KEBANGGAAN IBU

Bacaan Setahun : Yeremia 47-49

Nats : Dan kamu, Bapak-bapak, janganlah bangkitkan kemarahan di dalam hati anak-anakmu ... (Efesus 6:4)

Bacaan : Efesus 6:1-4

Alanda Kariza adalah putri pejabat bank yang terlilit kasus hukum dan terancam 10 tahun penjara dan denda 10 miliar. Di blognya, Kariza menulis demi mendapat opini teman-temannya tentang ketidakadilan yang dialami ibunya. Namun, ia justru kebanjiran simpati dan dukungan. Ketika ditanya apa cita-citanya, Kariza hampir selalu menjawab: "Saya ingin membuat Ibu bangga dengan terus berprestasi."

Banyak orangtua takut menjadi tua. Takut ditinggal hidup sendiri di rumah jompo yang sekalipun mewah, tetapi jauh dari anak cucu. Bagai burung tua yang menunggu mati di "sarang yang kosong" setelah anak-anak dewasa dan mandiri. Namun sebenarnya orangtua tak perlu mengalami hal ini jika sejak dini mereka membangun relasi keluarga berdasarkan ketaatan pada firman Tuhan. Yakni, agar anak taat dan hormat pada orangtua. Di lain pihak, meminta orangtua agar tidak membuat anak-anaknya marah (ayat 1-4). Bagaimana orangtua membuat anaknya marah? Jika orangtua tak punya waktu untuk membangun komunikasi dan memberi perhatian yang cukup untuk anak, dengan alasan harus bekerja keras demi masa depan anak. Sikap ini justru secara langsung menunjukkan sikap egois orangtua. Jika orangtua rindu anak-anak tetap hormat, peduli, dan mengasihi, sejak dini orangtua harus membangun kasih dan kepedulian. Bukan dengan kasih materialistis membanjiri anak-anak dengan materi tanpa kehadiran orang-tua.

Jika hubungan seperti ini ada dalam keluarga, yakinlah bahwa kerinduan anak ialah selalu ingin membuat orangtua bangga. Seperti Kariza yang bangga dan mendampingi ibunya dalam setiap sidang. Bangunlah relasi keluarga yang sehat sebelum terlambat --SST

SETIAP ANAK HANYA AKAN MEMBUAHKAN

APA YANG DITANAMKAN ORANGTUANYA KETIKA IA KECIL


Kamis, 01 September 2011

BERTOBAT DI KAYU SALIB

Baca: Lukas 23:33-43

Lalu ia berkata: ”Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (Lukas 23:42)

Bacaan Alkitab Setahun:
Yeremia 43-46


Enak, ya, jadi penjahat yang disalib ber­sama dengan Yesus itu. Bertobat lang­­­sung masuk ke surga. Coba kalau kita bi­sa bersenang-senang sepuasnya dulu di du­­nia, lalu sebelum mati baru kita ber­to­bat,” kelakar seorang teman. Per­ta­nya­an­nya, benarkah penjahat itu bertobat secara “enak”?

Kita lihat dulu dari sisi Tuhan Yesus. Pe­­nam­pilan-Nya saat itu betul-betul tak men­janjikan. Dia lebih mirip seorang pe­sa­kit­­an daripada seorang Juru Selamat. Se­la­in kondisi fisik-Nya yang begitu buruk dan me­­ngerikan, ejekan, olok-olok, dan hu­­jat­an pun menimpa-Nya secara bertubi-tubi.

Si penjahat sendiri juga sedang me­nang­­gung penyaliban. Penyaliban diakui se­­bagai bentuk hukuman mati yang paling ke­ji dan paling menyiksa. Kesengsaraan yang diakibatkannya ber­lang­sung secara pelan, tetapi pasti. Penderitaannya seakan tidak ber­­ujung. Seseorang menulis, “Dalam keadaan seperti itu, Anda cu­ma bisa berdoa atau mengutuk.”

Akan tetapi, si penjahat memilih untuk mengamati Si Terhukum di se­belahnya, mencerna pembicaraan orang tentang-Nya, dan mem­ban­tah hujatan penjahat lain terhadap-Nya. Dan, akhirnya ia pun sam­pai pada pengakuan bahwa Si Terhukum ini sejatinya ada­lah Sang Raja! Apakah Anda akan mengatakan bahwa itu keputusan yang diambil secara gampang dan “enak”?

Pertobatan, dari sudut pandang manusia, tidak pernah enak. Itu ber­arti meninggalkan keinginan egois agar kita dapat menyambut ke­­hendak Tuhan. Siapa yang melakukannya, tanpa harus mati dulu se­perti si penjahat, maka ia akan menemukan Firdaus—lambang su­­kacita yang paling dalam—hari ini juga. Bersediakah Anda?

MENINGGALKAN KEINGINAN EGOIS DAN MENYAMBUT KEHENDAK TUHAN

ADALAH SATU-SATUNYA JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN SEJATI

Sumber: [ARS]--[www.renunganharian.net]

TIDAK TERLELAP

Baca: Mazmur 121

Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap (Mazmur 121:3)

Bacaan Alkitab Setahun:
Yeremia 40-42

Kisahnya terjadi di Cirebon. Suatu ma­­­­­lam, sekelompok orang mencuri alat be­r­at jenis ekskavator hidrolik yang di parkir di lokasi galian tanah. Alat itu beratnya be­­las­an ton. Untuk me­min­dah­kannya, si pen­cu­ri harus memakai truk khusus pengang­kut alat berat. Prosesnya pasti cukup lama dan menimbulkan suara bising. Anehnya, ti­dak satu pun satpam yang berjaga di lo­ka­si mengetahuinya. Menga­pa? Karena me­­reka semua sedang ter­lelap!

Seorang penjaga yang suka ketiduran ti­dak dapat memberi jaminan keamanan. Gang­­guan bisa datang kapan saja. Maka, pen­­jaga yang baik harus terus siaga. Be­gi­tu ada gangguan, ia harus segera ber­tin­dak. Pemazmur membutuhkan pen­jaga se­ma­cam itu. Saat berziarah ke Yerusalem, ia ha­rus melewati ja­lan berbahaya yang dikelilingi gunung-gunung batu (ayat 1). Dari ba­lik bebatuan, perampok atau binatang buas bisa mun­cul kapan saja. Siapa penjaga yang paling mampu menjamin kea­man­annya? Tuhan! Dialah Penjaga yang tak pernah terlelap (ayat 3-4). Dan, Dia ti­dak hanya mampu menjaganya dari kecelakaan (ayat 7). Cu­aca gu­run yang ekstrem pun dapat diatur-Nya hingga bersahabat, se­bab Dia adalah penguasa alam raya (ayat 2,6).

Mazmur ini mengekspresikan iman dan rasa aman pemazmur pa­da penjagaan Tuhan. Karena keyakinan bahwa Tuhan menjaga, ia da­pat me­leng­gang riang di jalan penuh bahaya sekalipun. Yakinkah An­da, bahwa Tuhan pun tengah menjaga keluar masuk Anda (ayat 8)? Ba­­haya dan an­caman selalu ada. Akan tetapi, jika Anda memohon Tuhan men­jadi Sang Penjaga, Anda aman. Sebab, Tuhan pasti ber­se­dia men­­ja­ga dan Dia tidak pernah “kecolongan”. Dia tidak akan per­nah terlelap!

KARENA TUHAN ADALAH PENJAGA YANG TAK PERNAH TERLELAP
KITA BISA TIDUR DENGAN LELAP

Sumber: [JTI]--[www.renunganharian.net]

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More