Sabtu, 21 Mei 2011

Menakar dan Mengukur

Baca: Lukas 6:37-38
Ayat Mas: Lukas 6:38
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 7-9

Seorang tua sedang merenung. “Dulu saya lahir dari keluarga miskin. Ketika melihat orang kaya, saya bertanya-tanya mengapa mereka egois, tidak mau menolong orang miskin memperbaiki masa depan, bahkan tak jarang malah memandang rendah? Namun, ketika kemudian saya menjadi kaya setelah bekerja keras, saya merasa orang miskin itu malas, tak mau berinisiatif, maunya ditolong, iri, dan tak pernah berterima kasih?” Pak tua itu menggeleng-geleng menyadari kontradiksi di hati dan perasaannya. Mengapa begini?

Tak jarang dalam hidup ini, kita memiliki standar ganda dalam ”menakar dan mengukur”. Kita kerap menilai orang lain dari ”takaran” atau pandangan subjektif kita, dan tak mampu memahami orang lain dari sudut pandang orang itu. Kita kerap menuntut orang lain bersikap dan berbuat seperti yang kita mau, padahal kita sendiri belum tentu melakukan yang sebaliknya. Ketika berbuat salah, kita tak ingin dihakimi. Sebaliknya, ingin dimaafkan dan dibantu keluar dari kesalahan. Ketika membeli, kita menginginkan barang yang berkualitas dengan harga bagus, dan akan sangat marah jika dibohongi. Ketika susah, kita ingin orang lain menolong.

Apabila kita rindu tidak dihakimi, biarlah kita jangan menghakimi. Apabila kita rindu dimaafkan ketika bersalah, biarlah kita jangan menghukum, tetapi mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Sebab ukuran yang kita pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepada kita. Perhatikan ayat 38—”berilah”: pengampunan, maaf, kesabaran, kebaikan, pengertian, dukungan, kekuatan, kesempatan, pertolongan. ”... dan kamu akan diberi,” demikian sabda Kristus. Mau bukti? Coba terapkan janji Tuhan ini.

JALANI HIDUP SEBAGAIMANA KITA HARAP ORANG LAIN JALANI

MAKA ITU PULALAH YANG AKAN KITA DAPATI

Sumber: [usanto, S.Th.]--[www.renunganharian.net]

Tuhan Sudah Tahu

Baca: Matius 4:1-11
Ayat Mas: Matius 4:7
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 4-6

Seorang pembuat boneka kayu yang terkenal membuat boneka kayu yang sangat bagus untuk anak perempuannya. Suatu saat, boneka itu terjatuh hingga beberapa bagiannya terlepas. Sambil menangis, si anak membawa boneka itu kepada ayahnya. “Tinggalkan saja bonekamu. Ayah akan memperbaiki setiap bagian satu per satu.” Namun, anaknya tidak sabar, “Tidak, Ayah. Itu terlalu lama. Ayah hanya perlu menaruh lem di sini, memaku bagian ini, dan menyambung yang ini”. Si pembuat boneka meminta anaknya bersabar dan memercayakan boneka rusak itu kepadanya. Sayang, si anak keras kepala dan pergi membawa boneka rusaknya.

Dalam kisah pencobaan di padang gurun, Iblis berusaha mencobai Yesus dengan membawa-Nya ke beberapa tempat dan memberitahukan apa yang harus dilakukan Yesus. Semua yang diberitahukan Iblis memang tampak masuk akal, tetapi di balik itu semua Iblis ingin Yesus menyembahnya. Namun, Yesus adalah Tuhan. Dia tidak perlu diberi tahu apa yang harus Dia lakukan dan apa yang tidak. Sebab, Dia jauh lebih tahu alasan di balik setiap permintaan kita. Dia tahu kapan dan bagaimana seharusnya menjawab setiap permintaan.

Mungkin kita kerap berlaku seperti anak perempuan si pembuat boneka. Kita mendikte Tuhan, apa yang harus Tuhan lakukan untuk mengatasi masalah kita. Kita tidak mau memercayakan masalah kita pada cara-Nya. Padahal, sebagaimana pembuat boneka lebih tahu bagaimana memperbaiki boneka buatannya, Tuhan pasti lebih tahu apa yang kita butuhkan untuk keluar dari masalah. Berhentilah meniru kebiasaan iblis yang berusaha mendikte apa yang harus Tuhan lakukan. Dia sudah tahu.

BERHENTILAH MENDIKTE TUHAN

TUHAN PALING TAHU APA YANG KITA PERLUKAN

Sumber: [G. Sicillia Leiwakabessy]--[www.renunganharian.net]

Bukan Sekadar Kata

Baca: Mazmur 45
Ayat Mas: Mazmur 45:2
Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 31-33; Matius 22:1-22

Dalam pengantar buku Menjadi Penulis, Andar Ismail menegaskan pentingnya isi tulisan. Ia mengatakan, “Menulis bukanlah sekadar merangkaikan kata, melainkan menuliskan hikmat yang mencerahkan dan menumbuhkan pembaca. Sepandai-pandainya kita menuangkan, yang lebih menentukan adalah apa yang dituangkan. Apa gunanya menuang sebuah botol jika isinya adalah air keruh? Atau, apa yang mau dituang dari sebuah botol apabila botol itu masih kosong?”

Pengakuan pemazmur menunjukkan proses serupa. Mazmur-mazmurnya tertuang dari perkara-perkara yang memenuhi hatinya. Ungkapan “kata-kata indah”, menurut konkordansi Alkitab, mengacu pada perkara-perkara yang baik, mulia, luhur, dan benar. Ketika hal itu meluap-luap memenuhi hatinya, ia pun tergerak untuk menggubah sajak. Ia menulis tentang sosok yang sungguh-sungguh luhur dan mulia: nubuatan tentang Raja yang akan datang, Tuhan Yesus Kristus, dan jemaat-Nya yang berkemenangan.

Kehidupan kita, seperti halnya tulisan yang jujur, menyatakan apa yang ada di dalam hati kita. Kita akan menjalani kehidupan yang baik jika perbendaharaan hati kita meluap-luap dengan perkara-perkara yang baik. Paulus menasihatkan agar kita memenuhi hati dan pikiran kita dengan “semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji” (Filipi 4:8). Hal itu akan menggerakkan kita untuk menuliskan sajak kehidupan yang indah, kehidupan yang mengungkapkan kasih dan ketaatan kita kepada Raja segala raja.

KEINDAHAN HATI AKAN MEMANCAR DALAM KEINDAHAN HIDUP

Sumber: [Arie Saptaji]--[www.renunganharian.net]

Tekun Menahan Tekanan

Baca: Yakobus 5:7-11
Ayat Mas: Yakobus 5:11
Bacaan Alkitab Setahun: Ester 8-10

Tekun itu banyak gunanya. Kita kerap mendengar nasihat orangtua: ”Tekunlah belajar ...” atau ”Tekunlah dalam mengerjakan sesuatu ....” Dengan ketekunan, hasil dalam pekerjaan dan belajar bisa dicapai dengan baik. Dan, tekun harus dimulai dan dilatih dari sesuatu yang kecil.

Ketekunan juga berguna dalam hidup sebagai orang percaya, sebab ada banyak tekanan yang muncul sebagai konsekuensi dari iman yang kita miliki. Yakobus bahkan memberi anjuran agar umat Tuhan tidak hanya tekun bekerja, tetapi juga tekun dalam menderita. Ini bukan berarti umat diminta memilih jalan penderitaan dan karenanya mencari penderitaan. Bukan! Maksudnya, agar tatkala menghadapi penderitaan, umat Tuhan tidak menjadi patah semangat. Bahkan, penderitaan yang dihadapi dan disikapi secara kristiani akan menghasilkan kesaksian yang menguatkan banyak orang. Orang akan melihat dan belajar bagaimana kita menghadapi, berjuang, jatuh bangun, dan menang atas penderitaan. Sudah banyak tokoh iman yang membuktikan bahwa ketekunan dalam menghadapi penderitaan setidaknya menghasilkan dua hal: kehidupan rohani yang semakin tangguh dan keteladanan yang memberkati hidup orang lain—khususnya yang menyaksikan pergulatan kita dengan penderitaan itu (ayat 11).

Apakah Anda sedang menderita—mungkin dalam karier, atau studi, atau keluarga—demi iman Anda? Jika ya, ingatlah bahwa Anda sedang berada di jalan yang sama dengan para nabi yang ”telah berbicara demi nama Tuhan” (ayat 10). Ketekunan Anda dalam mengelola penderitaan akan menjadi berkat bagi diri sendiri dan sesama.

HIDUP KITA YANG BERTEKUN

ADALAH ALAT YANG DAHSYAT DI TANGAN ALLAH

Sumber: [Daniel K. Listijabudi]--[www.renunganharian.net]

Baana dan Rekhab

Baca: 2 Samuel 4
Ayat Mas: Amsal 2:20
Bacaan Alkitab Setahun: Ester 5-7

Baana dan Rekhab adalah dua kepala gerombolan yang berpihak atau bekerja kepada Isyboset, anak dari Raja Saul. Kepala gerombolan adalah seorang perwira yang memimpin sebuah pasukan. Sebagai pemimpin pasukan, tentunya mereka adalah orang-orang yang terikat dengan sumpah untuk terus setia sebagai prajurit Saul. Namun, tidak demikian dengan Baana dan Rekhab. Ketika mereka melihat posisi keluarga Saul semakin melemah dengan tewasnya sang jenderal, yaitu Abner, mereka menilai bahwa posisi untuk tetap setia kepada keluarga Saul, tidaklah menguntungkan. Itu sebabnya mereka mulai mempertimbangkan untuk beralih menjadi pengikut Daud.

Dengan konsep berpikir untung dan rugi, maka mulailah Baana dan Rekhab merancang sebuah rencana untuk membunuh Isyboset dengan maksud agar mereka dianggap berjasa oleh Daud. Akan tetapi, apa yang mereka pikirkan ternyata meleset. Apa yang tadinya mereka anggap sebagai keuntungan, ternyata menghasilkan celaka bagi mereka. Daud marah dan menganggap mereka berdua melakukan kesalahan besar dengan membunuh Isyboset sehingga akhirnya mereka berdua dibunuh karena apa yang telah mereka perbuat.

Melihat sebuah peluang dalam kehidupan dengan pola pikir untung dan rugi, tidak sepenuhnya salah. Akan tetapi, apabila tidak berhati-hati, kita bisa terseret pada pemikiran pragmatis ekstrem—dengan menghalalkan segala cara demi mendapat keuntungan. Oleh sebab itu, Amsal menasihatkan agar kita tetap menempuh jalan orang baik dan jalan yang benar. Supaya kita tidak terjatuh kepada dosa hanya karena mengejar keuntungan.

KESETIAAN AKAN MENDATANGKAN PENGABDIAN

BAHKAN DALAM SEGALA KEADAAN

Sumber: [Riand Yovindra]--[www.renunganharian.net]

Ezra

Baca: Ezra 7:1-10
Ayat Mas: Ezra 7:10
Bacaan Alkitab Setahun: Ester 2-4

Tujuh puluh tahun setelah rombongan pertama bangsa Israel kembali dari pembuangan Babel ke Yerusalem, Ezra turut kembali dari pembuangan. Ezra adalah seorang dari garis keturunan Harun, yang telah dididik untuk menjadi imam. Ia adalah seorang yang banyak belajar—dari tulisan-tulisan orang bijak Media-Persia, tulisan-tulisan para nabi dan raja, dan teristimewa dari Taurat Tuhan yang diberikan melalui Musa. Dari semua itu, ia berusaha memahami, mengapa Tuhan sampai menghukum bangsanya dengan pembuangan. Dan, ketika ia sudah mengetahui kehendak Tuhan, serta apa yang berkenan kepada-Nya, ia bertekad mengajarkannya kepada kaum sebangsanya, agar mereka bertobat (ayat 10).

Tuhan pun membukakan jalannya untuk kembali, yakni melalui perkenan raja Artahsasta (ayat 6). Tuhan melindunginya dalam perjalanan berbulan-bulan yang harus ia tempuh (ayat 9). Dan, sesampai di Yerusalem, Ezra sungguh memberi dirinya untuk menyampaikan kebenaran; ia berdoa memohonkan ampun atas dosa-dosa umat (Ezra 9). Ia juga menegur umat dan meminta mereka kembali pada jalan Tuhan—khususnya dalam hal perkawinan campuran yang mereka lakukan dengan wanita-wanita dari bangsa asing (Ezra 10).

Mempelajari dan memahami firman Tuhan, itu satu hal. Namun, membagikannya agar orang lain juga mengerti dan turut melakukan firman Tuhan, adalah hal lain. Ezra tak hanya ingin menjadi ahli Taurat. Ia tak menyimpan pengetahuannya untuk kepentingan sendiri. Ia membagikan pengertian yang ia peroleh kepada umat Tuhan, karena ia rindu mereka kembali hidup dalam rancangan Tuhan. Maukah kita mengikuti jejaknya?

PELAJARI FIRMAN TUHAN AGAR HIDUP KITA BERTUMBUH

TERUSKAN KEPADA SESAMA AGAR MEREKA TURUT BERTUMBUH

Sumber: [Agustina Wijayani]--[www.renunganharian.net]

Malaikat

Baca: Mazmur 91:9-16
Ayat Mas: Mazmur 34:8
Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 12-13; Ester 1

Beberapa tahun silam, ketika saya dan istri membawa putra kami berobat, pencuri masuk ke rumah kami. Laptop saya dicuri. Namun, saya tidak begitu sedih—bahkan saya bersyukur kepada Tuhan. Sebab hanya laptop yang dicuri, sementara putri kami—yang saat itu ada di rumah bersama pengasuhnya—tidak mengalami kejadian buruk apa pun. Padahal si pencuri sempat ke kamarnya, sebab terlihat sidik jari si pencuri di tirai jendela. Puji Tuhan, saat itu putri kami sedang tidak di kamar. Tak seperti biasa, ia terus bermain di lantai bawah sampai kami pulang. Kala si pencuri beroperasi, seperti ada yang “menahannya” untuk tidak ke loteng dan masuk ke kamar.

Mazmur 91 adalah sebuah madah kepercayaan, tentang perlindungan Tuhan bagi orang yang “hatinya melekat kepada-Ku” (ayat 14). Dan, perlindungan itu dipercayakan Tuhan kepada para utusan yang dinamai: malaikat (ayat 11). Malaikatlah yang melindungi Sadrakh, Mesakh, dan Abednego di perapian yang menyala-nyala (Daniel 3:23-25). Para malaikatlah yang membentengi Elisa di Dotan (2 Raja-raja 6:13-17). Malaikatlah yang menjumpai Yosua menjelang penaklukan atas Yerikho (Yosua 5:13-15). Malaikat pulalah yang membebaskan Petrus dari penjara (Kisah Para Rasul 12:7-10).

Kita semua bertanggung jawab menjaga diri sendiri. Akan tetapi, ada kalanya kita tak mampu melakukannya sendiri. Pada saat seperti itu, tak jarang Tuhan menghadirkan ”penjaga” yang diutus untuk menolong kita. Setelah saat kritis lewat, ia pergi. Kehidupan berlanjut. Kita pun kembali bertanggung jawab menjaga diri. Anda punya pengalaman serupa kisah saya di atas? Saya yakin, “penjaga” itu adalah malaikat-Nya!

PADA SITUASI BIASA KITA DIBERI KITA HIKMAT UNTUK MENJAGA DIRI

PADA KONDISI LUAR BIASA TAK JARANG DIA UTUS MALAIKAT-NYA

Sumber: [Pipi Agus Dhali]--[www.renunganharian.net]

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More